Selasa, 27 Juli 2010

Fitroh Manusia itu Bertauhid


Pagi itu, kembali aku berduduk sila, dengan pena dan buku catatan kecil, kucoba tulis apa yang ku dengar. Rasa kantuk sesekali menggoda, ditambah rasa dingin yang menjalar dari kaki, seakan menjadi godaan bagi manusia-manusia yang mencari ilmu di pagi itu. “Hiraukan rasa kantukmu, hiraukan rasa dingin itu, fokuslah kepada apa yang ustadzah pesankan”, begitu seolah-olah hati nuraniku mencoba menguatkanku.

Tak lama aku terduduk di majelis itu, 1 jam mungkin, tapi cukup memberiku ilmu, satu hal yang aku ingat dari beberapa hal yang aku catat, yaitu tentang “fitrohnya manusia itu bertauhid”.

Ingatkah kita pada suatu kaum, yang terombang ambing di dalam kapal di tengah lautan? Ketika badai datang, mereka memohon pada Alloh, tapi ketika badai sudah reda, dan keadaan mereka aman, mereka kembali lupa kepada Dzat yang menolong mereka, Alloh Ta’ala. Namun dari kisah itu, dapat kita ambil pelajaran bahwa tiap orang sejelek apapun, melakukan maksiat sebesar apapun, kalau sedang ditimpa musibah, pasti Tuhan ( Alloh ) yang mereka seru.

Ingatkah kita pada tragedi Adam Air yang hilang beberapa tahun lalu di perairan menuju Manado ? Masih ingatkah kita pada rekaman suara pembicaraan pilot dan co pilot yang sempat tersiar di televisi? Terlepas dari keaslian rekaman itu, setidaknya bisa kita ambil point penting dari pembicaraan tragis dan miris itu, perhatikan di akhir pembicaraan itu terdengar seruan kebesaran asma Nya, iya, seruan takbir, Allohu Akbar, berulangkali hingga seruan itu terhenti, menjadi penutup sebuah kisah perjalanan manusia.

Fitroh manusia itu bertuhan, bertauhid, ingatkah kita kepada kisah Nabi Ibrahim? Mencari siapakah sesembahan (Ilah) yang sebenarnya. Tatkala ia melihat bintang ia katakan "Inilah Tuhanku," namun ketika bintang itu tenggelam ia berkata: "Saya tidak suka yang tenggelam", demikian juga ketika melihat bulan dan matahari sama seperti itu. Akhirnya karena merasa bahwa benda-benda di alam ini tak ada yang pantas untuk disembah maka ia berkata, sebagaimana dalam firman Alloh Subhaanahu wa Ta’ala, yang artinya: "Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan."

Kisah ini membuktikan bahwa hanya dengan mengikuti akal sehat dan hati nurani saja (fitrah) ternyata beliau mampu menjadi muslim yang muwahid (lurus tauhidnya) meski lingkungan yang ada tidak mendukung. Dan ini menunjukan bahwa “fitrah manusia pada dasarnya adalah bertauhid”. Lalu bagaimana dengan kita umat Islam sekarang ini, bukankah selain memiliki akal dan hati nurani kita juga mempunyai pembimbing berupa Al-Qur'an dan As-Sunnah. Masihkah kita akan menutupi kemusyrikan, kebid'ahan dan kemungkaran-kemungkaran yang kita lakukan dengan alasan lingkungan? atau karena tradisi??

0 komentar:

Poskan Komentar